Natal sebetulnya merayakan hari Lahir siapa?

NATAL (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari besar umat Kristen yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal diperingati dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 31 januari. Sementara beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 6 Januari.

Dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Beberapa tradisi Natal yang berasal dari Barat antara lain adalah pohon Natal, kartu Natal, bertukar hadiah antara teman, dan anggota keluarga serta kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas - yang tidak ada sedikitpun sangkut pautnya dengan Bible!
Kata “natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir). Sedangkan dalam bahasa Inggris, perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Christmas biasa pula ditulis "Χ'mas", singkatan yang "gathuk" dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani Chi-Rho.
Dalam Bible terjemah bahasa Indonesia tidak dijumpai kata "Natal", kecuali kata "kelahiran Yesus" saja. Kendati demikian, umat Kristen Indonesia termasuk mereka yang merayakan natal (baca: hari kelahiran Yesus Kristus) dengan penuh sukacita seperti umumnya umat Kristen lain di seluruh dunia.

Tapi benarkah Yesus Krisrtus lahir pada tanggal 25 Desember?
Jawabnya, "TIDAK!"

Dasarnya?
Beberapa tahun lalu, tepatnya pada 21 November 2011, atas nama otoritas tertinggi umat Katolik sedunia, Paus Benediktus XVI meluncurkan sebuah buku berjudul “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives”, di mana dia menegaskan bahwa perhitungan tentang hari kelahiran Yesus yang selama ini diyakini oleh mayoritas umat Kristen sedunia adalah keliru. Yesus lahir beberapa tahun lebih awal.

Menurut Paus, kalender Masehi yang digunakan untuk membuat perhitungan hari kelahiran Yesus itu tidak akurat. Ia mengungkapkan bahwa kesalahan tersebut dilakukan oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus pada abad ke-6M.

“Perhitungan awal kalender kita, yang didasarkan pada kelahiran Yesus, dibuat oleh Dionysius Exiguus. Yang ternyata telah membuat kesalahan dalam penghitungannya, di mana terjadi perbedaan waktu sekitar beberapa tahun. Kelahiran Yesus sebenarnya lebih cepat beberapa tahun,” Demikian Paus menambahkan.

Kendati tidak secara spesifik menyebutkan tanggal yang benar, namun pernyataan Paus Benediktus XVI yang menyebutkan bahwa "tanggal kelahiran Yesus yang selama ini diyakini oleh mayoritas umat Kristen adalah tanggal yang keliru", sudah menjelaskan dengan sendirinya bahwa sejatinya Yesus Kristus tidak lahir pada tanggal 25 Desember!

Lantas, perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember itu sebenarnya memperingati hari lahir siapa?

Dari berbagai sumber penelitian para ahli, bahkan dari kitab Kristen sendiri, kita sudah membaca lumayan banyak kisah-kisah tentang kelahiran Yesus Kristus yang tidak sesuai dengan fakta sejarah maupun temuan-temuan arkeologis yang menunjukkan bahwa keyakinan mayoritas umat Kristen tentang sosok Yesus Kristus selama ini pada hakekatnya bukan berdasar pada kebenaran, melainkan sepenuhnya pada pembenaran.

Misalnya saja tentang Natal. Sebelum Vatikan mengumumkan "kesalahan" perhitungan tanggal kelahiran Yesus Kristus, rata-rata umat Kristen meyakini bahwa tannggal 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus Kristus, alias identik dengan hari ulang tahun Yesus Kristus.

Namun setelah terbitnya koreksi dari otoritas tertinggi gereja Katolik sedunia tadi, sebagian aplogist Kristen, terutama para misionarisnya, nekad memelintir makna Natal tsb menjadi bukan memperingati hari ulang tahun Yesus Kristus, melainkan hanya memperingati kelahiran Yesus Kristus - yakni sosok "tuhan" yang dilahirkan melalui rahim ibundanya yang manusia, sama halnya seperti kita semua!

Ini adalah bentuk penyangkalan berbasis "pembenaran" tadi, padahal menurut KBBI, makna Natal yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia sama persis dengan makna Milad dalam bahasa Arab yang juga sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, yaitu sama-sama berarti hari kelahiran.
Nah, karena Yesus Kristus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, sedangkan umat Kristen sedunia merayakan Natal - yang sama artinya dengan memperingati hari ulang tahun - pada tanggal tsb, maka kembali ke pertanyaan di atas; perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember itu sebenarnya memperingati hari lahir siapa?
Di dalam Al-Quran; Allah Subhanahu wata'ala, Tuhannya Yesus Kristus, berfirman;

وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ

“Dan orang-orang Yahudi berkata,“Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata,“Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka;" (Qs. At-Taubah 30).

Ayat ini menegaskan bahwa ribuan derivasi umat Nasrani yang kini sudah jauh berevolusi menjadi Kristen sebenarnya hanya menjiplak keyakinan orang-orang kafir (pagan) terdahulu yang menuhankan anak manusia sebagai bagian dari tuhan-tuhan sesembahan mereka (polytheisme Pagan).

Sejarah membuktikan bahwa doktrin Trinitas Kristen yang menekankan eksistensi Tuhan terdiri dari 3 oknum: Tuhan Bapa, Tuhan Putra, dan Roh Kudus adalah doktrin yang sudah ada jauh sebelum Kristen sendiri lahir ke dunia. Buktinya, di Mesir sudah ada Trinitas yang meyakini: Osiris, Horus dan Isis, masing-masing sebagai Tuhan Bapa, Tuhan Putra dan Ibu Tuhan. Horus diyakini sebagai juruselamat yang mati untuk menebus dosa dengan darahnya, dikuburkan, kemudian jasadnya bangkit pada hari ketiga.

Trinitas umat Hindu di India juga meyakini Tuhan terdiri dari tiga oknum; mereka sebut Trimurti, yaitu Brahma; Tuhan Bapa, Wisnu; Tuhan Pemelihara, dan Syiwa; Tuhan Pembinasa. Brahma mempunyai seorang putra tunggal yaitu Krisna yang dilahirkan di kandang sapi. Oknum ketiga dari Trimurti adalah Syiwa. Kepadanya sering dikorbankan beratus-ratus nyawa manusia. Tetapi, menurut pemeluk Hindu, nyawa-nyawa yang dikorbankan itu sesungguhnya adalah inkarnasi Syiwa sendiri.

Di Persia ada keyakinan bernama Mitraisme yang meyakini Mitra (Dewa Matahari) sebagai Juruselamat penebus dosa yang lahir dari seorang perawan pada hari Minggu tanggal 25 Desember. Hari Minggu mereka yakini sebagai hari suci, dan dalam perkembangannya, tradisi ini diadopsi dan diabadikan sebagai hari suci untuk beribadah di gereja oleh umat Kristen. Sehingga hari Minggu disebut sebagai Sunday (hari Matahari).

Perhatikan sekali lagi firman Allah SWT di atas (ditandai dengan huruf tebal) yang menyatakan “yudhohi’una qaulalladziina kafaruu min qablu” (mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu).

Jadi, Natal sejatinya adalah manifestasi dari keyakinan orang-orang kafir terdahulu yang menjadi bagian penting dalam keyakinan umat Kristen, sedangkan yang mereka rayakan pada tiap-tiap tanggal 25 Desember adalah ulang tahun putra tuhan sesembahan kaum kafir pagan sebagaimana disebutkan di atas!

Karena itu, Rasulullah SAW wanti-wanti berpesan dalam salahsatu hadits shahih beliau;
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji 'Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ''Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)." [HR. Bukhori dan At-Tirmidzi].
Sungguh benar apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa kekaguman berlebihan terhadap seorang Abdullah wa Rasuuluhu seperti halnya terhadap Nabi Isa Alaihisalam - yang oleh umat Kristen dikenal sebagai Yesus Kristus - pada akhirnya menyebabkan ghuluw yang berlebihan pula, sehingga seorang hamba Allah yang lahir dari rahim manusia dipercaya sebagai anak tuhan, bahkan tuhan itu sendiri! 



[Dari catatan lama Gus Mendem | Natal menurut Paus Beneducktus XVI]


Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini?
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar