Yesus Dan Doktrin Kristen


Matahari mulai terbenam di atas Danau Tiberias, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang tenang. Udara berbau tanah basah dan ikan. Kami duduk melingkar di atas tikar anyaman, dua belas orang saja, mendengarkan suara-Nya yang lembut namun penuh keyakinan.

“Saudara-saudaraku,” Yesus memulai, tatapan-Nya menyapu wajah setiap orang di lingkaran itu. “Aku mendengar bisikan-bisikan tentang diriku, tentang ajaran-ajaran yang dikatakan berasal dariku. Mereka membangun rumah dari jerami dengan fondasi yang bukan milikku.”

Seorang di antara kami, Yakobus, mengangguk pelan. “Guru, mereka berkata Engkau adalah Tuhan yang menjelma, bagian dari ketuhanan Tritunggal. Mereka mengutip kata-katamu kepada Filipus: ‘Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.’”

Yesus tersenyum, sedih. “Yakobus, engkau ingat apa yang aku katakan sesaat setelah itu? ‘Perkataan-perkataan yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri.’ Apakah Bapa membutuhkan pengakuan dari diri-Nya sendiri? Atau, ingatlah saat aku berdoa di Getsemani: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ Apakah Tuhan berdoa kepada diri-Nya sendiri? Bisakah kehendak Tuhan terpecah?”

Udara menjadi hening. Hanya desau angin dan riak air yang terdengar.

“Mereka juga mengutip dari awal Injil Yohanes,” lanjut Tomas dengan suara ragu. “‘Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.’ Lalu mereka berkata Firman itu adalah Engkau.”
Yesus menghela napas. “Tomas, apakah engkau percaya aku ada sebelum Abraham?”
“Ya, Guru.”
“Dan apakah engkau percaya Hikmat Allah, yang disebutkan dalam Kitab Amsal Salomo, ada sejak permulaan, sejak sebelum bumi dijadikan?”
“Tentu.”
“Apakah kemudian Hikmat itu adalah seorang ‘pribadi’ terpisah dari Allah? Ataukah ia adalah sifat, rencana, dan perkataan Allah yang kekal? ‘Firman’ itu adalah rencana penciptaan dan penyelamatan-Nya yang diwujudkan. Aku datang untuk mewujudkan Firman itu dalam daging, untuk menjadi alat yang sempurna bagi kehendak Bapa. Bukan untuk menggantikan-Nya.”

Dia menjulurkan tangan-Nya, melihat telapaknya yang kasar. “Mereka menggunakan kata ‘Anak Allah’ sebagai bukti keilahian sejati. Tetapi bukankah kitab suci juga memanggil Daud sebagai ‘anak Allah’? Bahkan Hosea menyebut Israel sebagai anak Allah? Itu adalah gelar kekasih, yang dipilih, yang taat. Bukan gelar hakikat.”

Petrus, yang duduk berhadapan dengannya, bertanya dengan suara bergetar. “Lalu, Guru, bagaimana dengan kebangkitan? Bukankah itu membuktikan Engkau mengalahkan maut, seperti Tuhan?”

Wajah Yesus berubah lembut. “Kefas", demikian ia biasa memanggil Petrus, "Elia tidak mengalami maut. Henokh diangkat Tuhan. Apakah mereka Tuhan? Kebangkitan adalah janji Bapa bagi mereka yang berkenan di hati-Nya, tanda awal dari kebangkitan semua orang benar pada akhir zaman. Itu adalah kuasa Bapa yang bekerja, bukan klaim atas ketuhananku. Aku adalah buah pertama, bukan sumber pohonnya.”

Malam mulai turun. Bintang-bintang pertama muncul di langit ungu.

“Iman yang mereka bangun,” kata Yesus dengan suara lirih namun tegas, “seringkali lebih membutuhkan teka-teki teologis yang rumit daripada ketaatan yang sederhana. Mereka lebih sibuk mendefinisikan hakikatku daripada meneladani hidupku: mencintai yang terbuang, mengampuni musuh, membasuh kaki sesama, dan menyembah Allah Yang Esa, Bapa di surga, dengan segenap hati dan jiwa. Itulah hukum yang terutama. Itulah seluruh kitab Taurat dan kitab para nabi.”

Dia berdiri, dan kami semua ikut berdiri. “Ingatkan kepada anak cucu kalian, janganlah imanmu goyah oleh bangunan-bangunan pikiran manusia yang megah. Berpeganglah pada apa yang kalian dengar dariku, pada apa yang kalian lihat dariku: panggilan kepada pertobatan, kerendahan hati, keadilan, dan belas kasihan. Itulah jalan yang lurus. Aku hanyalah penunjuk jalan. Jangan sembah penunjuk jalannya, tetapi berjalanlah menuju tujuan yang ditunjuknya: yaitu persatuan dengan Sang Bapa, Allah kita yang satu-satunya.”

Dia mengulurkan tangan, menyentuh bahu kami satu per satu. Tidak ada cahaya gemilang, tidak ada mahkota cahaya. Hanya ada kesejukan malam danau, dan kepastian yang dalam dari seorang guru yang mengasihi murid-muridnya.

“Pergilah, dan hiduplah sebagai anak-anak terang. Anak-anak Allah yang sejati. Bukan dengan menyembah aku, tetapi dengan mengikuti ajaranku.”

Kami membubarkan diri dalam keheningan yang penuh makna, membawa pulang bukan dogma baru, tetapi pengingat akan jalan yang hampir terlupakan. Danau Tiberias terus beriak, menyimpan percakapan malam itu dalam bisikannya yang abadi.


[Gus Mendem | Renungan]




Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini?
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar